Begitu banyak manfaat yang dapat diberikan hutan bakau kepada kehidupan manusia sehingga perlu disikapi secara bijaksana dan upaya kongkret untuk mencegah setiap kegiatan yang berdampak negatif terhadap ekosistem hutan bakau. Mempertahankan keberadaan dan mencegah serta menanggulangi berbagai intervensi yang berakibat mengurangi luas areal dan fungsi ekosistem alami, memerlukan pendekatan-pendekatan teoretis dan teknis operasional dengan pengkajian yang logis, lugas, tegas serta bertanggung jawab menyangkut biologis, teknis nonteknis secara bersamaan.
MENGACU kepada realitas di lapangan, banyak orang awam dalam konteks fungsi ekosistem dan kehidupan memandang rendah makna dan manfaat/kegunaan kawasan hutan bakau (mangrove).
Bagi mereka yang berpola pikir ekonomis, rasional, praktis, sesaat cenderung berpendapat bahwa mengurus hutan bakau hanya akan menguras dana pembangunan dan menciptakan masalah-masalah baru yang menuntut pengorbanan dan energi tanpa penyelesaian. Keluasan, posisi, sebaran hutan bakau memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk ditangani berdasarkan ketentuan dan aturan-aturan yang berlaku.
Posisi sebaran yang tidak proporsional terukur, tingkat kerusakan yang sudah cukup tinggi (35%) dan telanjur sudah dimanfaatkan untuk fungsi yang tidak tepat, menimbulkan masalah baru dalam penantaan kembali ke fungsi semula adalah mustahil dan sia-sia. Dalam proses perkembangan, terlebih dengan lemahnya fungsi dan tidak konsistennya tindakan atas pelanggaran, perambahan terhadap hutan bakau menjadi tak terkendali dan terus berlangsung tanpa kendali.
Di sisi lain, sampai saat ini tidak adanya ketegasan dan keseriusan kebijakan publik atas berbagai fungsi yang telah ditindihkan di atas fungsi pokok hutan bakau sebagai kawasan hutan lindung pesisir (mencegah abarasi dan ekstrasi). Ini mengakibatkan semakin tidak jelasnya keberadaan status kawasan-kawasan hutan bakau yang ada. Terbukti dari tidak adanya data yang akurat menyangkut hutan bakau, baik luas, jenis tanaman, dan batas-batas hutan yang jelas dan pasti. Kurangnya kepedulian terhadap keberadaan hutan bakau seperti ini, apa pun alasannya, tidak boleh terjadi.
Hutan bakau sebagai salah satu dari tipe formasi hutan, adalah komunitas hutan tersendiri yang merupakan tumbuhan utama intertidal tropic, dan terdiri atas banyak flora dan fauna yang hidup di area sub tropic pesisir pantai. Dengan demikian dapat dipahami keberadaannya yang khas dan tempat tumbuhnya terbatas sehingga perlu diamankan dari berbagai bentuk intervensi.


Mengingat luas hutan bakau di pesisir dan perairan pantai di >Kota SINGKAWANG relatif kecil dibanding dari luas hutan di Kota SINGKAWANG dan memiliki kekhasan dalam tampilan yang dengan kearifan, keahlian dan keterampilan khusus dapat digali nilai-nilai manfaat tanpa mengurangi fungsi pokok maupun kelestarian ekosistem alaminya. Kiranya tindakan-tindakan dalam bentuk kegiatan ekonomi maupun pergerakan manusia dan barang yang berdampak negatif terhadap keberadaan hutan bakau dapat dieliminasi.
Hutan bakau dengan keragaman hayatinya juga menyimpan khazanah ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna yang memiliki makna bagi kebutuhan hidup manusia dalam berbagai aspeknya.
Lingkungan Payau
Hutan bakau memiliki kestabilan dan pertumbuhan daerah pesisir pantai, menyediakan lingkungan terbaik bagi agriculture di air payau, memberikan area pertumbuhan bagi udang dan ikan yang bermigrasi ke area bakau dari laut ketika berupa benih/nener/muda dan kembali ke laut ketika mendekati kematangan. Bakau juga merupakan area pertumbuhan bagi udang karang dan ikan yang berproduksi di hulu sungai (freshwater upstream) dan bermigrasi ke air payau pada masa mudanya untuk mencari makan. Begitu banyak manfaat yang dapat diberikan hutan bakau kepada kehidupan manusia sehingga perlu disikapi secara bijaksana dan upaya kongkret untuk mencegah setiap kegiatan yang berdampak negatif terhadap ekosistem hutan bakau.



Mempertahankan keberadaan dan mencegah serta menanggulangi berbagai intervensi yang berakibat mengurangi luas areal dan fungsi ekosistem alami, memerlukan pendekatan-pendekatan teoretis dan teknis operasional dengan pengkajian yang logis, lugas, tegas serta bertanggung jawab menyangkut biologis, teknis nonteknis secara bersamaan.
Pertama, pendekatan biologis berusaha menciptakan kombinasi yang tepat tentang jenis tanaman, komposisi dan proporsi yang bersesuaian dengan kondisi objektif ruang dan keluasan, aspek pendukung mikro dan makro iklim jarak dan garis pantai yang mampu mengharmoniskan kehidupan jasad renik dalam konteks agrikultur.
Kedua, pendekatan teknis; melakukan pengukuran kembali keluasan, tingkat salinasi air, struktur medan/area, pemasangan patok yang definitif, perbaikan saluran air, pembuatan tanggul dan sarana penguraian arus dan gelombang yang bersifat alami, pencegahan intervensi sampah domestik dan limbah.
Ketiga, pendekatan nonteknis menyangkut peraturan yang berkonotasi aspek-aspek dampak lingkungan (padat, cair, udara, suara), izin mendirikan bangunan, kegiatan ekonomi produktif yang berdampak negatif. Memotivasi, membangkitkan kecintaan terhadap bakau dengan mengeliminasi kesan negatif keberadaan hutan bakau sebagai tempat sampah atau kesan kotor lainnya, menghentikan konservasi hutan bakau untuk kepentingan di luar pemantapan ekosistem bakau dan membangun kesadaran untuk mengarahkan lahan-lahan yang sudah dikonversi untuk mendukung pelestarian bakau.
Implementasi pendekatan termaksud membutuhkan strategi yang mengarah kepada pengelolaan hutan partisipatif komprehensif dalam bentuk pemanfaatan, pemeliharaan, panataan, monitoring evaluasi, pengendalian dan rehabilitasi yang terbagi dalam tugas pokok dan fungsi dari para pihak (stakeholder).
dan di tahun ini, konferensi dunia tentang perubahan iklim akan diadakan di Bali. Mari kita jadikan momentum bersejarah tersebut dengan memulai pelestarian hutan bakau.
Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut :
-
Habitat satwa langka
Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus) -
Pelindung terhadap bencana alam
Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi. -
Pengendapan lumpur
Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi. -
Penambah unsur hara
Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian. -
Penambat racun
Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif. -
Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar kawasan (Ex-Situ)
Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur. -
Transportasi
Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan. -
Sumber plasma nutfah
Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri. -
Rekreasi dan pariwisata
Hutan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya. -
Sarana pendidikan dan penelitian
Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. -
Memelihara proses-proses dan sistem alami
Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya. -
Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon. -
Memelihara iklim mikro
Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga. -
Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam
Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam. -
Hutan Mangrove dan Perikanan
Dalam tinjauan siklus biomassa, hutan mangrove memberikan masukan unsur hara terhadap ekosistem air, menyediakan tempat berlindung dan tempat asuhan bagi anak-anak ikan, tempat kawin/pemijahan, dan lain-lain. Sumber makanan utama bagi organisme air di daerah mangrove adalah dalam bentuk partikel bahan organik (detritus) yang dihasilkan dari dekomposisi serasah mangrove (seperti daun, ranting dan bunga). Selama proses dekomposisi, serasah mangrove berangsur-angsur meningkat kadar proteinnya dan berfungsi sebagai sumber makanan bagi berbagai organisme pemakan deposit seperti moluska, kepiting dang cacing polychaeta. Konsumen primer ini menjadi makanan bagi konsumen tingkat dua, biasanya didominasi oleh ikan-ikan buas berukuran kecil selanjutnya dimakan oleh juvenil ikan predator besar yang membentuk konsumen tingkat tiga Singkatnya, hutan mangrove berperan penting dalam menyediakan habitat bagi aneka ragamjenis-jenis komoditi penting perikanan baik dalam keseluruhan maupun sebagian dari siklus hidupnya.
Penulis, pengamat lingkungan, planolog
————-
* Sampai saat ini tidak ada ketegasan dan keseriusan kebijakan publik atas berbagai fungsi hutan bakau sebagai kawasan hutan lindung pesisir.
* Kegiatan ekonomi maupun pergerakan manusia dan barang yang berdampak negatif terhadap keberadaan hutan bakau dapat dieliminasi.
* Hutan bakau dengan keragaman hayatinya menyimpan khazanah ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna yang memiliki makna bagi kebutuhan hidup manusia dalam berbagai aspeknya